Kampus kesayanganku, dari mana aku memulainya. Banyak suka maupun duka yang aku lalui di kampus ini. Bahkan pada saat menulis ini pun aku merasakan haru. Baiklah, untuk menyambung ceritaku sebelumanya "Tentang Putri Awaliati, Kisahku" yang berakhir pada masa SMA di tahun 2008, ini awal aku bisa kuliah di Polteknik Negeri Sriwijaya. Check this out...
Setelah tamat SMA aku bersama sahabatku Pina Hariati berencana untuk melanjutkan kuliah. Kampus ternama di Palembang yang kami tuju adalah Universitas Sriwijaya. Berbekal restu dari orang tua yang melihat semangat belajar anaknya dan tidak ingin mengecewakannya, aku berangkat untuk mendaftar SNMPTN. Aku dan temanku tersebut telah lama bersama, sejak SMP kami satu kelas, walaupun tidak satu pertemanan, tetapi kami saling tahu. Hingga SMA akhirnya kmi memutuskan untuk duduk sebangku sampai 3 tahun ke depan. Kami mempunyai misi yang sama, kami banyak melalui waktu bersama, kami pun ikut tes Unsri bersama. Hingga saat hasil tes keluar, kami temui hasil ternyata kami tidak lulus. Oh iya, aku lupa, sebelumnya kami juga ikut tes STAN tetapi kami juga tidak lulus.
Setelah tes Unsri gagal, kami ambil langkah selanjutnya, kami pun ikut tes Politeknik Negeri Sriwijaya. Ibuku kembali merestui langkahku itu, walau aku tahu biaya untuk membayar uang pendaftaran tidaklah sedikit bagi keluargaku, tetapi aku mejem mata saja demi cita-cita. Alhamdulillah, nasib berpihak padaku, aku lulus dan masuk kelas reguler dimana biaya nya lebih murah, aku sangat bersyukur. Setelah pengumuman kelulusan, selanjutnya adalah daftar ulang, pada saat itu biaya nya menyentuh angka 4.5jt. Tentu saja, biaya itu bukan biaya yang disangka2 oleh orang tua saya yang pekerjaannya adalah pedagang laos dan buruh bangunan. Batas waktu daftar ulang adalah 3hari sembari melengkapi berkas2. Perjuangan pun dimulai....
Perjuangan pertama adalah bagaimana untuk mendapatkan uang pendaftaran, perjuangan kedua adalah bagaimana melengkapi berkas. Uang pendaftaran seperti yg saya sebutkan di atas, tak ada sedikitpun yg dimiliki orang tuaku, sebab uang yang didapat hanya habis untuk keperluan sehari hari. Satu satunya cara yg dimiliki ayah ibu adalah dengan menjual sepeda motor kami satu satunya yg digunakan untuk membawa barang dagangan ke pasar. Tak ada rasa takut ataupun akan menyesal kelak karena telah menjual motor, bahkan cibiran tetangga pun ditelan mentah2. Di antara mereka berkata "orang ga punya apa apa kok beraninya menymgkuliahkan anak", ada jg yg berkata "kenapa harus tinggi tinggi mengkuliahkan anak, sedangkan sarjana aja banyak yang nganggur". Tp semua itu tidak di gubris, dan usaha menjualkan motor pun terus berjalan. Sulit sekali mencari pembeli, sampai banting harga untuk dapat minimal 4jt. Sampai hari kedua motor belum laku, aq pun terlihat putus asa karena terancam tak dapat berkuliah, namun orang tuaku tak sanggup menyaksikannya. Alhamdulillah, pembeli pun di dapat di hari ketiga. Aku berangkat mendaftar tetapi berkas ku belum lengkap.
Perjuangan kedua, melengkapi berkas, berkas yg belum saya miliki adalah akta kelahiran. Aku pergi mendaftar bersama kenalan ayahku yang di kenal pandai berbicara dan bernegosiasi. Tujuannya adalah agar dapat menegokan kelengkapan berkas yg terkendala akta lahir tersebut. Tiba giliran k loket penyampaian berkas, diperiksalah berkas2 ku dan dilihatlah tidak terdapat akta kelahiran, lalu berbicaralah teman ayah ku tersebut bahwa akta nya sedang dlm proses pembuatan. Untuk itu dimintalah surat keterangan bahwa akta sedang dibuat. Dan teman ayah ku pergi mengusahakannya dan dy kembali dengan secarik kertas yg diminta. Aku tidak tahu bagaimana dy mendapatkannya, yg pasti aku sangat berterima kasih.
Perjuangan pertama adalah bagaimana untuk mendapatkan uang pendaftaran, perjuangan kedua adalah bagaimana melengkapi berkas. Uang pendaftaran seperti yg saya sebutkan di atas, tak ada sedikitpun yg dimiliki orang tuaku, sebab uang yang didapat hanya habis untuk keperluan sehari hari. Satu satunya cara yg dimiliki ayah ibu adalah dengan menjual sepeda motor kami satu satunya yg digunakan untuk membawa barang dagangan ke pasar. Tak ada rasa takut ataupun akan menyesal kelak karena telah menjual motor, bahkan cibiran tetangga pun ditelan mentah2. Di antara mereka berkata "orang ga punya apa apa kok beraninya menymgkuliahkan anak", ada jg yg berkata "kenapa harus tinggi tinggi mengkuliahkan anak, sedangkan sarjana aja banyak yang nganggur". Tp semua itu tidak di gubris, dan usaha menjualkan motor pun terus berjalan. Sulit sekali mencari pembeli, sampai banting harga untuk dapat minimal 4jt. Sampai hari kedua motor belum laku, aq pun terlihat putus asa karena terancam tak dapat berkuliah, namun orang tuaku tak sanggup menyaksikannya. Alhamdulillah, pembeli pun di dapat di hari ketiga. Aku berangkat mendaftar tetapi berkas ku belum lengkap.
Perjuangan kedua, melengkapi berkas, berkas yg belum saya miliki adalah akta kelahiran. Aku pergi mendaftar bersama kenalan ayahku yang di kenal pandai berbicara dan bernegosiasi. Tujuannya adalah agar dapat menegokan kelengkapan berkas yg terkendala akta lahir tersebut. Tiba giliran k loket penyampaian berkas, diperiksalah berkas2 ku dan dilihatlah tidak terdapat akta kelahiran, lalu berbicaralah teman ayah ku tersebut bahwa akta nya sedang dlm proses pembuatan. Untuk itu dimintalah surat keterangan bahwa akta sedang dibuat. Dan teman ayah ku pergi mengusahakannya dan dy kembali dengan secarik kertas yg diminta. Aku tidak tahu bagaimana dy mendapatkannya, yg pasti aku sangat berterima kasih.
Demikianlah perjuangan ku untuk dapat berkuliah. Aku menuliskan semua ini adalah untuk mengenang pengorbanan orang tuaku dan bantuan teman ayahku. Terima kasih bapak dan ibu yang telah memenuhi keinginanku dan membantu aku mencapai cita citaku. Semoga apa yg aku peroleh sekarang, mampu membanggakan kalian.
Ceritaku akan berkanjut pada masa2 kuliah, tunggu di postingan berikutnya...
Thanks, telah membaca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar